Mahakam Senja pun membenam dalam tragedi Abad ini jalan ini semakin sunyi Tapi kita tak sampai-sampai juga Angin dari relung itu Semakin runcing Dan menciptakan
B. Indonesia
ridhowardhana13
Pertanyaan
Mahakam
Senja pun membenam dalam tragedi
Abad ini
jalan ini semakin sunyi
Tapi kita tak sampai-sampai juga
Angin dari relung itu
Semakin runcing
Dan menciptakan garis ungu
Haruskah ke arah lain jalan pantai
kita kawinkan sepi
Antara dua badai?!
Tualang panjang ini
Semakin jauh semakin lengang
Langkah pun lelah menapak juang
Lalu kelepak yang menjauh
Longsong itu
Tanggalan pun jatuh
Tinggallah gerimis renyai
Dan bait-bait sunyi
Ketika jam pun sampai
Menunjuk-nunjuk tempat sepi
Kalo boleh tau amanat nya apa ya??
Senja pun membenam dalam tragedi
Abad ini
jalan ini semakin sunyi
Tapi kita tak sampai-sampai juga
Angin dari relung itu
Semakin runcing
Dan menciptakan garis ungu
Haruskah ke arah lain jalan pantai
kita kawinkan sepi
Antara dua badai?!
Tualang panjang ini
Semakin jauh semakin lengang
Langkah pun lelah menapak juang
Lalu kelepak yang menjauh
Longsong itu
Tanggalan pun jatuh
Tinggallah gerimis renyai
Dan bait-bait sunyi
Ketika jam pun sampai
Menunjuk-nunjuk tempat sepi
Kalo boleh tau amanat nya apa ya??
1 Jawaban
-
1. Jawaban sayutiyuti4052p4v2lv
Dari kutipan tersebut tampak dengan amat jelas bagaimana pengarang menegaskan bahwa harmoni alam dengan manusia sejatinya sudah ada, sejak masa-masa masyarakat agraris. Idiom-idiom budaya seperti: harmoni kehidupan dan lingkungan (tradisi kuno penggembalaan, kemakmuran peternakan, ladang hijau, gonggongan rubah di bukit-bukit, rusa yang diam, pakis dan bunga liar, aneka burung yang tak terbilang jumlahnya, cabang-cabang sungai yang dingin, dan sebagainya) merupakan kenyataan yang selalu dapat dijumpai. Orang-orang berlalu lalang dengan nyaman, alam pun terasa tidak terganggu dengan kehadiran manusia. Terjadi senjawa persahabatan yang indah.