Mengapa strategi perlawanan bangsa indonesia berubah ubah
Sejarah
aufamaria1954
Pertanyaan
Mengapa strategi perlawanan bangsa indonesia berubah ubah
1 Jawaban
-
1. Jawaban christian1233
A. Perjuangan Kooperasi
Kemerdekaan ekonomi merupakan syarat bagi kemerdekaan politik. Kemakmuran rakyat harus didahulukan sebelum berjuang untuk merdeka sebagai negara.
Kegiatan organisasi kebangsaan mengutamakan perbaikan di bidang ekonomi dan sosial, seperti pendidikan, pembangunan pedesaan, serta koperasi.
Organisasi kebangsaan bersifat lunak dan terbuka untuk kerja sama dengan pemerintah kolonial. Kerja sama itu antara lain berupa subsidi.
B. Perjuangan Nonkooperasi
Kemerdekaan baik ekonomi maupun politik harus dicapai dengan usaha sendiri. Mengusahakan kemakmuran rakyat dalam situasi masih dijajah adalah mustahil.
Kegiatan organisasi kebangsaan mengutamakan bidang politik, melalui pendidikan politik dan pembentukan organisasi massa.
Organisasi kebangsaan bersifat radikal dan menolak kerja sama dengan pemerintah kolonial dalam bentuk apapun.
Sampai tahun 1912, belum jelas bentuk perjuangan seperti apakah yang ditempuh oleh organisasi kebangsaan yang baru tumbuh. Barulah sejak berdirinya Indische Partij, tampak kecenderungan organisasi kebangsaan menempuh bentuk perjuangan nonkooperasi. Organisasi kebangsaan lain yang jelas sekali memperlihatkan sikap radikal itu adalah PI dan PNI.
Setelah gubernur jenderal De Jonge melakukan pengawasan ketat-bahkan pelarangan terhadap organisasi kebangsaan yang dianggap berbahaya, bentuk perjuangan beralih menjadi kooperasi. Bentuk perjuangan itu antara lain ditempuh melalui Volicsraad. Organisasi kebangsaan yang menempuh bentuk perjuangan itu antara lain PBI, Parindra, dan GAPI.
D. Masa Radikal
Setelah Perang Dunia I berakhir, perasaan anti kolonialisme dan anti imperialisme pada bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika semakin menonjol. Lebih-lebih setelah adanya seruan presiden Amenka Serikat tentang menentukan nasib sendiri bagi bangsa-bangsa.
Partai-partai politik di Indonesia dan negeri Belanda juga terpengaruh oleh situasi demikian. Kematangan dalam perjuangan dan sikap keras yang diambil pemerintah kolonial menyebabkan sikap moderat makin ditinggalkan dan sikap radikal makin menonjol. Sikap radikal ini ditandai oleh taktik non-kooperasi dari pihak partai-partai politik dan berbagai organisasi pergerakan nasional. Artinya, dalam memperjuangkan cita-citanva mereka tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, terutama di bidang politik.
Semua hal yang diperlukan untuk mencapai cita-cita itu akan diusahakan sendiri, antara lain dengan memperkokoh persatuan nasional, memajukan pendidikan, meningkatkan kegiatan-kegiatan sosial untuk kesejahteraan rakyat dan lain-lain. Mereka juga tidak mau memasuki dewan-dewan perwakilan rakyat yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda baik di pusat maupun di daerah.
Taktik non-kooperasi pada masa radikal ini dilakukan oleh organisasi-organisasi: Sarekat Islam (SI), Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Proses radikalisasi ini bertambah kuat sejak tahun 1921, hal ini antara lain disebabkan oleh:
Timbulnya krisis ekonomi pada tahun 1921 dan lariisis perusahaan g-ula sejak tahun 1918.
Pergantian kepala pemerintahan dengan Gubernur Jendral Fock yang bersifat sangat reaksioner. Kebijakan politiknya sering mengabaikan kekuatan ralcyat yang sedang berkembang.
E. Masa Moderat
Masa radikal pergerakan nasional mulai berakhir sejak tahun 1930. Kemunduran itu bukan disebabkan kurang radikalnya pemimpin-pemimpin Indonesia, melainkan oleh sebab-sebab di luar kekuasaan mereka yaitu:
Krisis ekonomi dunia yang juga melanda Indonesia. Krisis tersebut mempengaruhi ekonomi Hindia Belanda yang justru menjadi tujuan utama penjajahan.
Tindakan pemerintah semakin keras terhadap partai politik, lebih-lebih tindakan Gubernur Jenderal de Jonge yang sangat konservatif dan reaksioner.
Secara nyata memang partai-partai tidak dilarang atau dimatikan sama sekali. Tetapi gerak-gerik mereka sangat dibatasi. Mula-mula dikeluarkan peraturan larangan berkumpul, kemudian sekolah swasta nasional dinilai sebagai sekolah liar. Sekolah Swasta Nasional banyak melahirkan bibit-bibit nasionalisme yang sangat berbahaya.
Untuk memberantasnya dikeluarkan Ordonansi Sekolah Liar, yang melarang kelanjutan sekolah tersebut. Di samping itu, anggota-anggota polisi rahasia memata-matai, melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai. Kadang-kadang sikap polisi itu sudah sangat berlebihan.
Akibat kebijakan politik kolonial yang sangat menindas itu, partai-partai politik kehilangan kontak dengan rakyat. Lebih dari itu banyak media komunikasi massa yang diberangus. Karena keadaan vang tidak menentu semacam itu, akhirnya para pemimpin pergerakan nasional mengganti taktik perjuangan dari radikal non-kooperatif menjadi taktik moderat kooperatif.